Mergangsan,REDAKSI17.COM – Warga Kampung Dipowinatan, Kelurahan Keparakan, menggelar Merti Golong Gilig di RTHP Dipowinatan, Selasa (18/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Merti Golong Gilig diawali kirab budaya, dilanjutkan pentas tari, Upacara Tali Sada, pesta rakyat, dan pertunjukan musik.

Plt Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Yogyakarta Agus Arif Nugroho mengatakan Merti Golong Gilig menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan warga. Menurutnya, kekuatan kampung tidak hanya ditentukan pembangunan fisik, tetapi juga kerukunan dan kepedulian antarwarga.

Plt Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Yogyakarta Agus Arif Nugroho.

“Mari kita bersama menjadikan Merti Golong Gilig ini sebagai pengingat bahwa kekuatan sebuah kampung bukan hanya terletak pada pembangunan fisiknya, tapi juga pada warganya yang guyub, rukun dan memiliki kepedulian satu sama lain,” kata Agus.

Ia mengatakan filosofi Golong Gilig tercermin dari sapu lidi yang diikat menjadi satu. Lidi yang berdiri sendiri tidak memiliki kekuatan, tetapi ketika disatukan mampu membersihkan.

“Kalau sapu lidi itu berdiri masing-masing, maka dia tidak akan pernah memiliki kekuatan untuk menyapu kotoran. Akan tetapi pada saat dia ditalikan menjadi satu, maka insya Allah kotoran itu akan mudah tersingkirkan,” ujarnya.

Warga Kampung Dipowinatan.

Menurut Agus, filosofi tersebut merupakan bagian dari identitas masyarakat Yogyakarta yang perlu terus dijaga. Semangat gotong royong juga dinilai penting untuk menghadapi berbagai tantangan.

“Semoga Kampung Dipowinatan senantiasa diberikan keberkahan, semakin maju, semakin kompak dan terus menjadi bagian dari wajah Yogyakarta sebagai kota budaya dan kota wisata yang kuat dengan semangat gotong royong,” katanya.

Sementara itu, perwakilan penyelenggara Mahadeva mengatakan Merti Golong Gilig merupakan agenda rutin setiap 18 Agustus sejak tahun 2015 dan menjadi salah satu puncak perayaan kemerdekaan di Kampung Dipowinatan.

Salah satu pertunjukan yang ditampilkan adalah fragmen Dipawinoto yang mengisahkan cikal bakal Kampung Dipowinatan, yang merupakan penggabungan Kampung Numbak Anyar dan Kampung Kintelan.

Fragmen Dipawinoto yang mengisahkan cikal bakal Kampung Dipowinatan, yang merupakan penggabungan Kampung Numbak Anyar dan Kampung Kintelan.

“Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat, berlangsung selama satu bulan dan akan dilanjutkan pentas seni sebagai penutup pada 29 Agustus 2026,” ujar Deva.

Pesta rakyat menjadi ruang bagi warga untuk bersyukur sekaligus berbagi makanan dengan masyarakat. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan potensi kuliner Kampung Dipowinatan sebagai kampung wisata.

“Pesta rakyat ini bagian dari wujud warga kami bersukaria, bersyukur atas kehidupan yang bisa akur, tenteram di sini. Kemudian mereka berbagi makanan. Apa pun yang ada di sini, yang dimiliki oleh masyarakat, ini kita keluarkan, kita bagikan secara gratis,” kata Deva.

Melalui Merti Golong Gilig, warga Dipowinatan menjaga tradisi sekaligus memperkuat kebersamaan, gotong royong, serta potensi seni, budaya, dan kuliner kampung.