Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Pencak silat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) didorong menjadi ruang budaya yang terbuka bagi semua, termasuk penyandang disabilitas. Wakil Gubernur (Wagub) DIY KGPAA Paku Alam X sekaligus mendorong perguruan tinggi di DIY memperkuat kolaborasi untuk bersama-sama mengembangkan pencak silat sebagai warisan budaya.
Pesan tersebut disampaikan Sri Paduka saat menerima silaturahmi Panitia Pencak Wisata Budaya di Gedhong Pareanom, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis (20/08). Menurutnya, pengembangan pencak silat tidak cukup berhenti pada dukungan dan wacana, tetapi perlu diwujudkan melalui langkah konkret yang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat.
“Saya komitmen ada slot khusus untuk disabilitas. Kita beri ruang inklusivitas karena itu bagian dari kita. Mereka perlu diakomodasi,” tutur Sri Paduka.
Sri Paduka menegaskan, inklusivitas menjadi bagian penting dalam pengembangan pencak silat di DIY. Pesilat penyandang disabilitas perlu mendapatkan ruang untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitas sehingga pencak silat dapat menjadi wadah budaya yang terbuka bagi berbagai kalangan.
Selain membuka ruang bagi penyandang disabilitas, Sri Paduka juga meminta keterlibatan perguruan tinggi diperluas. Pengembangan pencak silat di DIY, menurutnya, perlu melibatkan lebih banyak universitas, tidak hanya UGM.
“Tidak hanya UGM, tetapi universitas lainnya. Pencak silat di DIY harus inklusif supaya mereka bisa unjuk gigi. Teman-teman dari perguruan tinggi lain juga dilibatkan,” tegasnya.
Arahan tersebut mendapat respons positif dari panitia. Koordinator Komunitas Paseduluran Angkringan Silat (PAS), Suryadi, mengatakan pihaknya ingin memperkenalkan pencak silat tidak semata sebagai cabang olahraga dan ajang prestasi, tetapi sebagai kekayaan budaya Indonesia.
“Pada prinsipnya, silat tradisi ini adalah kekayaan budaya Indonesia. Kami menggandeng akademisi karena ingin menyampaikan bahwa silat adalah kekayaan budaya tanah air,” ujar Suryadi.
Menurut Suryadi, keterlibatan akademisi diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai pencak silat sebagai warisan budaya. Pencak silat telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia (Intangible Cultural Heritage) pada 12 Desember 2019.
“Dari teman-teman akademisi sangat berharap ini menjadi pembicaraan yang menarik. Teman-teman yang lain juga akan tahu bahwa ternyata silat adalah warisan budaya yang sudah diakui internasional oleh UNESCO,” katanya.
Pengenalan pencak silat sebagai warisan budaya diwujudkan melalui Pencak Wisata Budaya, bagian dari Agenda Bulan Warisan Dunia DIY 2026 yang digelar Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY. Rangkaian kegiatan digelar 27–29 Agustus 2026 di Turi, Sleman, Taman Pintar, dan Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Agenda meliputi seminar silat di GIK UGM, empat jam pencak silat di Titik Nol Kilometer, workshop dan lomba koreografi pencak silat, lomba mewarnai bertema pencak silat di Taman Pintar, Pencak Wisata Budaya di Turi, serta peluncuran kolaborasi kelompok pesilat melalui pertunjukan pencak atau sabetan pencak.
Suryadi berharap perguruan tinggi lain di DIY ikut mengambil bagian dalam agenda tersebut. Menurutnya, kolaborasi dengan kampus penting untuk memperluas perspektif bahwa pencak silat merupakan warisan tradisi yang tidak hanya dinilai dari capaian prestasi.
“Harapan kami perguruan tinggi atau universitas lainnya di DIY akan sama. Karena tujuannya untuk menyuarakan bahwa pencak silat adalah warisan tradisi, bukan dilihat hanya dari prestasi, tetapi kaitannya dengan kaidah-kaidah kehidupan,” ungkapnya.
Sementara itu, Panitia Pencak Wisata Budaya Arif Baskoro mengatakan keterlibatan penyandang disabilitas sebenarnya telah beberapa kali dilakukan. Dalam agenda mendatang, panitia berkomitmen kembali membuka ruang bagi mereka untuk berkreasi dan tampil.
“Sebetulnya kami telah mengundang teman-teman berkebutuhan khusus untuk perform dari Magelang, tetapi cancel dari pihak sekolah. Jadi, sebetulnya sudah beberapa kali kami melibatkan dan menampilkan teman-teman berkebutuhan khusus. Ke depannya kami akan memberikan ruang untuk teman-teman berkebutuhan khusus untuk berkreasi,” tuturnya.
Dukungan juga datang dari UGM. Perwakilan Kantor Urusan Internasional UGM Agus Supriyanto menyampaikan pencak silat memiliki peluang besar untuk dikenalkan kepada mahasiswa internasional yang belajar di DIY.
“Ini sesuatu hal yang sangat menarik. Apalagi saya sendiri sangat concern sebagai orang Jogja, tentu punya kewajiban untuk melindungi dan mengembangkan sesuai arahan Sri Paduka,” tandasmya.
Agus mengatakan UGM siap memperluas kolaborasi agar pencak silat semakin dikenal di kalangan mahasiswa internasional. Mahasiswa yang belajar di Yogyakarta diharapkan dapat mengenal pencak silat sebagai bagian dari budaya Indonesia dan kelak menjadi duta budaya setelah menyelesaikan studi.
“Kami akan scale up kegiatan ini agar lebih dikenal oleh mahasiswa internasional yang belajar di UGM. Nantinya setelah mereka lulus dan selesai dengan program studinya, bisa menjadi duta budaya,” katanya.
Pihaknya juga berharap kuota peserta kegiatan dapat diperluas mengingat tingginya animo masyarakat. “Kita siap berkolaborasi yang selaras untuk mengembangkan budaya DIY,” imbuhnya.
Arahan Sri Paduka menempatkan inklusivitas dan kolaborasi sebagai bagian penting dalam pengembangan pencak silat DIY. Ruang bagi penyandang disabilitas untuk tampil serta keterlibatan lebih banyak perguruan tinggi menjadi langkah yang didorong agar warisan budaya tersebut terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Humas Pemda DIY





