Beranda / Tokoh / Sri Sultan HB IX, Pengabdian Tanpa Pamrih, Dasar Pembangunan Kepanduan Indonesia 

Sri Sultan HB IX, Pengabdian Tanpa Pamrih, Dasar Pembangunan Kepanduan Indonesia 

Jakarta,REDAKSI17.COM – Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX pernah menegaskan bahwa kepanduan Indonesia dibangun di atas semangat pengabdian tanpa pamrih. Hal ini disampaikan beliau ketika berpidato di hadapan Kongres Kepanduan Dunia di Tokyo, Jepang tahun 1971 silam.

“Dengan judul ‘The Trend in Scouting’, pernyataan itu bukan sekadar retorika diplomatik. Namun manifestasi dari watak seorang pemimpin yang oleh masyarakat Jawa disebut memiliki sifat Janma Limpad Seprapat Tamat,” ungkap Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono dalam sambutannya saat Peluncuran Buku ‘Tahta, Darma, dan Karsa’: Pemikiran, Karya, dan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Bertempat di Auditorium Sukarman Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat pada Kamis (13/08), Sri Sultan menjelaskan, watak pemimpin tersebut dapat diartikan bahwa seorang yang benar-benar arif. Meski baru menangkap sepotong kecil persoalan, ia telah mampu memahami maksud, arah, dan tujuan dari apa yang sedang dibicarakan orang lain.

“Bukan karena ia tahu segalanya, melainkan karena ketajaman batinnya mampu menangkap keseluruhan dari yang sebagian. Sifat itulah yang tampak dalam rekam jejak beliau (HB IX). Semuanya bertumpu pada kemampuan membaca situasi secara utuh sebelum bertindak,” imbuh Sri Sultan.

Hal itulah yang menurut Sri Sultan memiliki relevansi dengan Gerakan Pramuka hari ini. Sebab dengan kepekaan batin dalam membaca situasi dan kondisi yang tersirat seperti itulah, seseorang mampu bertindak cepat dan tepat. Namun demikian bukan berarti gegabah, bertindak tanpa pertimbangan.

“Justru sebaliknya, kepekaan sejati selalu disertai kehati-hatian, disertai analisis yang jernih, disertai kesediaan untuk berhenti sejenak sebelum melangkah. Inilah pelajaran kepemimpinan yang saya kira, terlalu sering dilupakan zaman kita, bahwa kecepatan tanpa kejernihan adalah kecerobohan yang dipercepat,” paparnya.

Dikatakan Sri Sultan yang juga sebagai Ketua Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka DIY, buku ‘Tahta, Darma, dan Karsa’ adalah upaya menerjemahkan sebuah kehidupan menjadi kurikulum moral, agar generasi yang tak sempat bertemu langsung dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, tetap dapat mewarisi cara berpikir dan cara berlaku beliau.

“Saya berharap, buku ini menjadi jangkar bagi anggota Gerakan Pramuka di seluruh Indonesia. Bukan untuk mengagumi masa lalu, melainkan untuk menghidupkan nilainya di masa kini. Sebab, keteladanan yang tidak diteruskan hanya akan menjadi kenangan, sedangkan keteladanan yang dihayati akan menjadi peradaban,” imbuh Sri Sultan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti dalam pidato kuncinya mengungkapkan rasa syukur atas diluncurkan buku ini. Menurutnya, sudah menjadi kegelisahan di kementerian atas realitas tantangan pada generasi saat ini yang mengalami degenerasi nilai-nilai kehidupan.

“Ajaran-ajaran mulia dari para tokoh pendiri bangsa, tidak lagi tumbuh di kalangan anak-anak kita. Karena itulah, melalui buku ini, saya antusias untuk kita semua bersama-sama membangunkan kembali semangat kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, dengan Pramuka sebagai sarananya,” ungkapnya.

Dikatakan Abdul Mu’ti, Kemendikdasmen RI telah mengambil kebijakan Pramuka menjadi ekstrakurikuler wajib di seluruh jenjang pendidikan di tanah air. Hal ini dikarenakan Dasa Darma Pramuka yang berdasarkan pada Pancasila, perlu ditanamkan pada generasi muda Indonesia.

“Kehadiran buku ini menjadi sangat penting untuk mengingatkan kita kembali akan semangat untuk membangun integrasi bangsa. Maka dengan semangat Hari Pramuka peluncuran ini menjadi sangat tepat dan menjadi sangat bermakna demi kedaulatan bangsa Indonesia,” imbuhnya.

Buku ‘Tahta, Darma, dan Karsa’ ditulis oleh Harto Juwono dan Anis Ilahi Wahdati. Buku ini hadir bukan sebagai buku biografi, melainkan buku sejarah pemikiran Sri Sultan Hamengku Buwono IX selama dua dekade (1941-1961) perjuangan Gerakan Pramuka Indonesia.

Acara peluncuran ini dihadiri pula oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, E. Amunisinya Aziz; Penasehat Khusus Presiden Bidang Keamanan, Ketertiban Masyarakat, dan Reformasi Kepolisian, Letjen Pol (Purn) Ahmad Dofiri; dan Ketua Gerakan Pramuka Kwartir Nasional, Komjen Pol (Purn) Budi Waseso. Turut hadir, Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY, GKR Hayu; Ketua Dewan Pembina Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas, GKR Mangkubumi; serta Ketua Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas, Acep Somantri.

HUMAS DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *