Beranda / Daerah / Sultan Sebut Penyederhanaan Garebeg Besar Bentuk Penghematan Anggaran

Sultan Sebut Penyederhanaan Garebeg Besar Bentuk Penghematan Anggaran

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Sri Sultan Hamengku Buwono X memberikan penjelasan langsung mengenai kebijakan penyederhanaan upacara adat Garebeg Besar yang akan dilaksanakan pada Rabu (27/05) mendatang. Langkah memusatkan seluruh rangkaian prosesi di internal Keraton Yogyakarta tersebut diakui sebagai bentuk penghematan anggaran yang nyata.

Sri Sultan memaparkan, kebijakan ini diambil demi menyelaraskan langkah dengan pemerintah pusat maupun daerah yang saat ini tengah gencar melakukan penghematan. Keraton Yogyakarta memilih bersikap realistis dalam mengelola pembiayaan upacara adat dengan menyesuaikan situasi ekonomi yang sedang berjalan.

“Ya penghematan aja, kabeh kan penghematan ya kan. Ya kita juga menghemat lah prinsipnya kan gitu,” ujar Sri Sultan, Kamis (21/05) di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.

Sri Sultan menjelaskan, komponen biaya terbesar dalam tradisi Garebeg selama ini memang berpusat pada pergerakan logistik dan kirab luar ruangan yang melibatkan banyak personel. Maka dari itu, penyesuaian pada lini tersebut dinilai sebagai keputusan yang paling masuk akal untuk situasi saat ini.

“Ya kita lihat yang pemerintah APBN ya penghematan, daerah ya penghematan. Karena biaya yang terbesar itu kan di situ. Kalo (biaya) kecil terus penghematan kan ndak logis. Itu aja. Tapi kalau sekaten kemungkinan prajurit kan tetap ngawal misalnya gitu, tapi pada waktu acara gunungan nggak ada. Penghematan aja,” papar Sri Sultan.

Disinggung mengenai kemungkinan format sederhana ini akan terus dipertahankan pada upacara-upacara Garebeg berikutnya, Sri Sultan menyebut kebijakan tersebut tidak bersifat permanen. Pihak Keraton Yogyakarta akan terus melihat situasi dan dinamika pemulihan ekonomi ke depan sebelum mengambil keputusan lanjutan.

Meski pelaksanaan Garebeg Besar esok dipastikan tanpa arak-arakan gunungan, Sri Sultan memberi sinyal bahwa pengawalan prajurit tetap berpotensi hadir pada upacara kebudayaan lain, seperti Sekaten. Hanya saja, modifikasi teknis di lapangan akan tetap menyesuaikan dengan prioritas penghematan yang sedang berjalan.

“Saya nggak bisa menentukan nanti kita lihat perkembangan kalau memang apa keadaan ekonominya lebih baik ya dimunculkan lagi kita kan belum tahu,” tutup Sri Sultan.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *