Ada satu faktor penting kegagalan kampanye militer penyatuan Jawa oleh Sultan Agung.
Dia terlalu fokus mengerahkan seluruh kekuatan militer Mataram di timur Jawa utk menaklukan seluruh wilayah Kadipaten disana.
Disisi lain kekuatan kolonis eropa (VoC) berhasil menancapkan kaki mereka di Jawa bagian barat pada tahun 1614 lewat kekuatan diplomasi dgn pangeran Jayakarta saat itu, benteng mereka bangun & berujung pada penaklukan Jayakarta (Batavia) pada 1619.
Sultan Agung baru menyerang Batavia pada 1628, tp semua telah terlambat. Penguasaan sekitar 10 tahun di Batavia, VoC telah membangun benteng bastion yg kokoh. Teknologi benteng baru di Nusantara yg sulit ditembus.
Walaupun sejatinya Mataram telah menguasai Batavia dgn mengepungnya hingga berakhir dgn tewasnya Gubernur jenderal VoC J.P. Zoon coen, tp Mataram tdk pernah menguasai Batavia secara kolektif. Dimana pemerintahan Batavia mssih tetap jalan krn inti pemerintahan di dalam benteng masih tetap berfungsi.
Ada opsi menarik dari sejarawan Peter carey, seandainya Mataram secara pararel membagi kekuatan militer mereka di timur & barat Jawa bisa saja VoC tdk akan pernah menginjaksn kaki di Jawa.
Utk tahap awal Mataram tdk perlu menaklukan kawasan barat Jawa secara menyeluruh, cukup melakukan blokade laut dgn menguasai pesisir/garis pantai Jawa. Ciptakan kantong2 militer & wilayah buffer zone utk mencegah masuknya kekuatan asing di Jawa.
Ketika kampanye militer di timur Jawa telah selesai, maka seluruh kekuatan bisa difokuskan utk menguasai kawasan barat Jawa secara kolektif, dgn demikian Mataram akan menjelma menjadi “Majapahit 2”.
Kampanye militer akan terus berlanjut ke-luar pulau, sesuai dgn moto Mataram, :
“gung binathara, bau dhendha nyakrawati” (sebesar kekuasaan dewa, pemelihara hukum, dan penguasa dunia)





