Umbulharjo,REDAKSI17.COM-Pemerintah Kota Yogyakarta terus mendorong transformasi digital dalam pelayanan kesehatan melalui digitalisasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), khususnya di Puskesmas.
Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memperkuat pengelolaan data kesehatan di Kota Yogyakarta.
Sosialisasi ini dibuka oleh Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori. Dalam sambutannya ia mengatakan, transformasi digital dalam pelayanan publik saat ini bukan lagi sekadar pilihan. Pemanfaatan teknologi informasi telah menjadi bagian penting untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pelayanan, termasuk di bidang kesehatan.
“Transformasi digital saat ini bukan lagi sekadar pilihan, tetapi telah menjadi bagian penting dalam peningkatan kualitas penyelenggaraan pelayanan publik, termasuk pelayanan kesehatan,” katanya di Ruang ARJUNA / Auditorium DPMPTSP Lantai III, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi memberikan peluang besar bagi fasilitas kesehatan untuk menghadirkan pelayanan yang lebih cepat, terintegrasi, efektif, efisien, aman, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Digitalisasi di Puskesmas, lanjutnya, juga dinilai tidak hanya memberikan manfaat secara langsung kepada petugas maupun pasien. Lebih jauh, sistem digital dapat mendukung ketersediaan data kesehatan yang akurat, lengkap, dan tepat waktu.
“Keberhasilan digitalisasi di Puskesmas tidak hanya akan memberikan manfaat bagi petugas dan pasien, tetapi juga mendukung tersedianya data kesehatan yang berkualitas untuk perencanaan, monitoring, evaluasi, dan pengambilan kebijakan,” ujarnya.
Meski demikian, Budi mengingatkan agar penerapan digitalisasi pelayanan kesehatan tetap memperhatikan aspek keamanan dan kerahasiaan data pasien.
Menurutnya, data kesehatan merupakan informasi yang harus dikelola secara bertanggung jawab. Karena itu, setiap petugas perlu memahami kewenangan akses, keamanan akun, perlindungan data, serta ketentuan yang berlaku dalam pengelolaan rekam medis.
“Saya ingin menekankan bahwa dalam penerapan digitalisasi, keamanan dan kerahasiaan data pasien harus menjadi perhatian utama. Data kesehatan merupakan informasi yang harus dikelola secara bertanggung jawab,” jelasnya.
Budi juga mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan kegiatan sosialisasi tersebut sebagai ruang untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang muncul dalam penerapan digitalisasi di lapangan.
Para peserta juga diminta aktif menyampaikan kendala yang dihadapi, berbagi pengalaman, serta mencari solusi bersama. Hal itu dinilai penting karena dalam penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) masih dimungkinkan muncul berbagai persoalan teknis yang perlu diidentifikasi sejak awal.
“Silakan manfaatkan forum ini untuk berdiskusi, menyampaikan kendala yang dihadapi di lapangan, berbagi pengalaman, serta mencari solusi bersama,” kata Budi.
Ia berharap setelah kegiatan sosialisasi tersebut terdapat komitmen yang jelas, pemahaman yang sama, serta langkah tindak lanjut yang konkret dalam pelaksanaan digitalisasi di masing-masing Puskesmas.
Dengan demikian, Puskesmas di Kota Yogyakarta mampu memberikan pelayanan yang semakin bermutu, cepat, aman, transparan, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
“Dengan sistem yang semakin terintegrasi, sumber daya manusia yang semakin kompeten, serta tata kelola data yang semakin baik, kita berharap Puskesmas mampu memberikan pelayanan yang semakin bermutu, cepat, aman, transparan, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Waryono, mengatakan sosialisasi tersebut dihadiri sebanyak 70 peserta. Peserta terdiri dari jajaran Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, para Kepala Puskesmas, serta Petugas Rekam Medis.
Menurut Waryono, kegiatan tersebut tidak hanya diisi dengan penyampaian materi mengenai transformasi digitalisasi FKTP, tetapi juga dilengkapi dengan simulasi sistem atau aplikasi digitalisasi FKTP.
“Dalam sosialisasi ini para peserta mendapatkan materi sosialisasi serta simulasi sistem atau aplikasi digitalisasi FKTP,” ujar Waryono.
Ia menjelaskan, melalui sesi simulasi tersebut, para petugas Puskesmas mendapatkan latihan untuk meningkatkan ketepatan dalam pengelolaan data, mempercepat alur pelayanan, sekaligus memahami protokol keamanan data pasien sesuai dengan standar yang berlaku.
“Simulasi menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut agar petugas tidak hanya memahami konsep digitalisasi secara teori, tetapi juga memiliki kesiapan dalam menerapkannya dalam proses pelayanan di Puskesmas,” ungkapnya.
Waryono mengatakan, kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan Puskesmas dalam melaksanakan digitalisasi pelayanan kesehatan secara terintegrasi.
Melalui kegiatan sosialisasi dan simulasi tersebut, diharapkan tercipta kesamaan pemahaman di antara para petugas terkait pelaksanaan digitalisasi FKTP. Selain itu, berbagai kendala maupun kebutuhan dalam penerapan digitalisasi juga diharapkan dapat teridentifikasi sejak awal.
“Dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan Puskesmas dalam melaksanakan digitalisasi pelayanan kesehatan secara terintegrasi,” katanya.
Dengan adanya pemahaman yang sama, identifikasi kendala dan kebutuhan, serta tindak lanjut yang terarah, digitalisasi diharapkan dapat mendukung pelayanan Puskesmas yang bermutu, efektif, efisien, terintegrasi, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.


