Umbulharjo,REDAKSI17.COM — Puluhan pelajar SMA, SMK, dan MA sederajat di Kota Yogyakarta mengikuti penyisihan Olimpiade Demokrasi 2026 di Ruang Bima, Balai Kota Yogyakarta, Selasa (22/9/2026). Selama 60 menit, para pelajar diuji wawasan tentang sejarah kebangsaan, sistem kenegaraan, demokrasi hingga isu politik terkini.

Sebanyak 52 tim dari 30 sekolah mengikuti Olimpiade Demokrasi yang digelar Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Yogyakarta. Setiap tim beranggotakan tiga pelajar, namun pada ujian tulis kali ini peserta dibagi dalam dua sesi dengan dua orang dari setiap tim yang mengikuti seleksi.

Kepala Bidang Politik Dalam Negeri dan Organisasi Kemasyarakatan Kesbangpol Kota Yogyakarta, Polana Setiya Hati, mengatakan Olimpiade Demokrasi menjadi salah satu cara untuk mengenalkan politik dan demokrasi kepada generasi muda dengan suasana yang lebih menarik.

“Intinya pada maksud dan tujuannya adalah untuk bisa memberikan insight dan peningkatan kapasitas serta awareness kepada generasi muda, khususnya pelajar di Kota Yogyakarta, agar bisa lebih memahami apa itu politik, seluk-beluknya terkait politik, demokrasi, dan tentunya tata kelola kenegaraan,” ujarnya.

Menurut Polana, edukasi demokrasi kepada pelajar penting dilakukan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap berbagai persoalan kenegaraan. Karena itu, materi mengenai demokrasi dan politik dikemas dalam bentuk kompetisi agar pelajar dapat belajar sekaligus mengasah kemampuan mereka.

Sebelum mengikuti ujian tulis, setiap tim telah mengumpulkan tulisan berupa narasi atau opini dengan tema “Demokrasi dan Pelajar”. Nilai tulisan tersebut nantinya digabungkan dengan nilai ujian tulis untuk menentukan lima besar yang berhak melaju ke babak final.

“Materinya meliputi sejarah kebangsaan Indonesia, sistem kenegaraan yang mencakup eksekutif, legislatif dan yudikatif, pengetahuan umum demokrasi, serta isu-isu terkini terkait politik,” ungkap Polana.

Polana menyampaikan antusiasme sekolah mengikuti Olimpiade Demokrasi tahun ini cukup tinggi. Tercatat 52 tim dari 30 sekolah SMA, SMK, dan MA sederajat di Kota Yogyakarta ikut ambil bagian.

“Karena ternyata antusiasme sekolah SMA, SMK, MA untuk mengikuti olimpiade luar biasa cukup banyak,” ujarnya.

Salah satu juri Olimpiade Demokrasi dari Komite Independen Sadar Pemilu dan Universitas Proklamasi 45, Ahsan Taqwin, mengatakan peserta mengerjakan 50 soal pilihan ganda dalam waktu 60 menit. Selama ujian, peserta diminta mengerjakan soal secara mandiri tanpa menggunakan telepon seluler maupun perangkat elektronik lainnya.

“Yang jelas tidak boleh berbisik-bisik atau berbicara. Apabila ada yang ingin disampaikan, silakan angkat tangan dulu tanpa suara, nanti dari teman-teman pengawas lapangan akan mendatangi,” katanya.

Ketentuan tersebut diterapkan untuk menjaga pelaksanaan ujian tetap tertib dan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh peserta.

Lima peserta atau tim dengan nilai tertinggi dari gabungan nilai opini dan ujian tulis akan melaju ke babak final pada 28 September 2026. Pada babak tersebut, peserta akan beradu pengetahuan melalui lomba cerdas cermat untuk menentukan peringkat pertama hingga kelima, dengan total hadiah sebesar Rp20 juta.

“Hasil penyisihan ujian tulis dan penilaian opini dijadwalkan diumumkan pada 24 September 2026 pukul 15.00 WIB melalui media sosial Kesbangpol Kota Yogyakarta dan disampaikan kepada guru pendamping,” tambahnya.

Melalui Olimpiade Demokrasi, pihaknya ingin menjadikan demokrasi bukan sekadar materi yang dipelajari di ruang kelas, tetapi juga pengetahuan yang dekat dengan kehidupan pelajar. Selain itu juga semakin banyak generasi muda yang memahami hak, kewajiban, serta perannya dalam kehidupan demokrasi dan bernegara.