Beranda / Hikayat Seni dan Budaya / Harmoni Tradisi dan Pembangunan Upacara Adat Rasulan Kalurahan Karangrejek

Harmoni Tradisi dan Pembangunan Upacara Adat Rasulan Kalurahan Karangrejek

Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Kalurahan Karangrejek, Kapanewon Wonosari, kembali menghidupkan warisan leluhur melalui penyelenggaraan upacara adat Bersih Desa atau “Rasulan” yang berlangsung khidmat di Pendhopo Kalurahan Karangrejek, Senin, 1 Juni 2026. Acara ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan manifestasi rasa syukur kolektif masyarakat atas segala berkah yang diterima selama satu tahun terakhir.

Kegiatan diawali dengan prosesi ‘pasrahining uparanti’, sebuah ritual penyerahan perlengkapan upacara dari panitia pelaksana kepada Pemerintah Kalurahan Karangrejek. Prosesi ini dipimpin langsung oleh Lurah Karangrejek, Marjana, dengan didampingi oleh perangkat kalurahan, lembaga desa, serta tokoh masyarakat dan kasepuhan yang memberikan nuansa kesakralan.Suasana di lokasi tampak berwarna dengan kehadiran warga yang mengenakan pakaian adat dominan warna merah dan kuning, menciptakan pemandangan visual yang mencolok di sekitar Pendhopo.

“Pelaksanaan Rasulan tahun ini merupakan hasil kerja keras kolektif dari warga Padukuhan Blimbing, Padukuhan Karangrejek, Padukuhan Karangduwet I, dan Padukuhan Karangduwet II.” ujar Lurah Karangrejek.

Panitia menekankan bahwa kegiatan ini menuntut pengorbanan waktu dan tenaga dari warga demi menjaga kelestarian adat istiadat.Selain dimensi spiritual, perayaan ini diarahkan untuk memicu aspek ekonomi dan investasi di wilayah tersebut,

“Melalui seni budaya, pemerintah kalurahan berharap dapat membangun semangat masyarakat dalam memajukan pembangunan fisik maupun pemberdayaan ekonomi.” pungkas Lurah Karangrejek.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih dalam pesannya menekankan pentingnya semangat bersatu untuk meningkatkan investasi agar kesejahteraan warga semakin meningkat. Puncak acara diisi dengan doa bersama untuk keselamatan seluruh warga. Harapan yang dipanjatkan meliputi kehidupan yang “adem ayem, tata titi, lan tentrem” (tenang, teratur, dan damai).

“Semoga masyarakat Karangrejek dilimpahkan rezeki yang berkah baik rezeki yang datang dari langit maupun yang digali dari bumi, serta diberikan kesehatan, umur panjang, dan akhir hidup yang baik (husnul khotimah).” ucap Bupati memberikan doa kepada warga Karangrejek.

Acara ditutup dengan ajakan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk terus menjaga keamanan, kenyamanan, dan kerukunan. Dengan semangat “Jaya Wijayanti Rahayu”, tradisi Rasulan ini diharapkan tetap menjadi pilar identitas budaya yang mampu menyatukan derap langkah pembangunan di Kabupaten Gunungkidul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *