
Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta memperkuat penanggulangan HIV/AIDS melalui perluasan deteksi, layanan pengobatan, dukungan dan perawatan, serta pendekatan berbasis komunitas. Upaya tersebut diarahkan untuk mencapai target Three Zero pada 2030, yakni tidak ada infeksi baru HIV, tidak ada kematian akibat AIDS, dan tidak ada diskriminasi terhadap orang dengan HIV.
Epidemiolog Kesehatan Ahli Pertama Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Anandi Iedha Retnani, mengatakan penanggulangan HIV/AIDS dilakukan melalui kerja sama lintas sektor dan penguatan akses layanan kesehatan.
“Yang pertama kita lakukan pasti kalau orang itu tidak mengenal apa itu HIV. Kita bekerja sama dengan puskesmas, Dinas Pendidikan, DP3AP2KB, untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat,” kata Anandi saat dikonfirmasi, Rabu (23/9/2026).
Hingga triwulan II 2026, kumulatif penemuan HIV pada warga yang berdasarkan anamnesis medis berdomisili di Kota Yogyakarta sejak 2004 mencapai 1.840 kasus. Pada 2026, tercatat 41 kasus baru hingga triwulan II. Jumlah tersebut menunjukkan tren penurunan dibandingkan 2024 yang mencapai 118 kasus dan 2025 sebanyak 98 kasus. Rata-rata penemuan kasus HIV baru berada pada kisaran 80–100 kasus per tahun.
“Data kami kumulatif dari tahun 2004 sampai dengan triwulan II tahun 2026. Pada saat dites HIV kemudian ditemukan positif dan dari hasil anamnesis, mengaku berdomisili di Kota Yogyakarta, kumulatifnya sejumlah 1.840,” ujar Anandi.
Anandi menjelaskan, angka tersebut merupakan data berdasarkan domisili yang disampaikan saat proses anamnesis. Mengingat Kota Yogyakarta merupakan kota pelajar dengan mobilitas penduduk yang tinggi, sebagian orang yang tercatat dalam data tersebut dapat mengalami perubahan domisili.
Di sisi lain, jumlah orang dengan HIV yang menjalani pengobatan di fasilitas kesehatan Kota Yogyakarta sekitar 2.300 orang. Data tersebut mencakup pasien dari luar Kota Yogyakarta, luar DIY, bahkan ada yang berada di luar negeri. Hanya sekitar 20–30 persen yang berdomisili atau memiliki KTP Kota Yogyakarta.
“Kalau yang melakukan pengobatan di fasilitas kesehatan Kota Yogyakarta itu tercatat sebagai data kita. Itu sekitar 2.300-an. Yang berdomisili atau ber-KTP Kota Yogyakarta sekitar 20 sampai 30 persen, yang lainnya di luar Kota Yogyakarta. Bahkan ada yang di luar negeri juga,” jelasnya.
Untuk memperluas akses deteksi, layanan tes HIV saat ini tersedia di 18 puskesmas, 14 rumah sakit umum, dan tiga klinik di Kota Yogyakarta. Puskesmas dan rumah sakit juga menyediakan layanan pengobatan, dukungan, dan perawatan bagi orang dengan HIV.
“Untuk deteksinya itu dengan tes. Rapid test sudah ada di semua puskesmas, 18 puskesmas, 14 rumah sakit umum, kemudian tiga klinik di Kota Yogyakarta sudah melayani tes HIV,” katanya.
Berbeda dengan TB, penelusuran kasus atau tracing HIV belum dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama. Karena itu, Pemkot Yogyakarta mengembangkan strategi untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat melalui layanan di luar jam kerja dan jejaring komunitas.
“Kalau HIV itu untuk tracing memang belum bisa dilaksanakan. Namun selain layanan tes yang ada di puskesmas dan rumah sakit, kita juga ada layanan di luar jam kerja maupun di luar puskesmas,” ujar Anandi.
Pemerintah juga melibatkan LSM penjangkau untuk mendekati populasi yang berisiko terhadap HIV. Salah satunya melalui layanan pos kesehatan di kantor LSM dan VCT Mobile yang menyediakan pemeriksaan HIV serta sifilis atau infeksi menular seksual (IMS).
“Kita tidak bekerja sendiri. Untuk HIV kita melibatkan LSM penjangkau yang menjangkau populasi kunci atau populasi yang berisiko HIV,” katanya.
Melalui VCT Mobile, layanan pemeriksaan dapat dilakukan di kantor LSM maupun lokasi yang menjadi tempat berkumpulnya komunitas. Pendekatan tersebut dilakukan untuk menjangkau masyarakat yang tidak dapat mengakses layanan pada jam operasional puskesmas atau rumah sakit.
“Jadi banyak cara bagaimana kita mendekatkan layanan HIV kepada masyarakat. Ada lagi yang namanya VCT Mobile. Itu tes HIV dan juga sifilis atau IMS yang dilakukan bisa di kantor LSM, bisa juga di hotspot, misalnya di karaoke atau kafe-kafe,” jelas Anandi.
Selain deteksi, pengobatan menjadi bagian penting dalam penanggulangan HIV. Orang yang telah terdiagnosis HIV mendapatkan terapi antiretroviral (ARV) yang harus dikonsumsi setiap hari.
“Kalau pasien sudah positif HIV atau terdiagnosis HIV, ada obat yang namanya ARV, antiretroviral. Itu diminum setiap hari,” kata Anandi.
Upaya pencegahan juga dilakukan melalui edukasi mengenai HIV, kesehatan reproduksi, dan infeksi menular seksual. Pemerintah mendorong masyarakat memahami cara penularan dan pencegahan HIV, termasuk mengurangi perilaku yang meningkatkan risiko penularan.
Dengan penguatan edukasi, perluasan pemeriksaan, pendekatan komunitas, serta keberlanjutan pengobatan dan perawatan, Pemkot Yogyakarta terus mendorong pencapaian target Three Zero HIV/AIDS pada 2030.


