Beranda / Opini / KEROPOS DARI DALAM

KEROPOS DARI DALAM

Tidak semua bangsa runtuh karena diserbu musuh. Tidak semua negara berakhir oleh invasi. Musuh yang paling mematikan sering kali muncul di dalam tubuhnya sendiri, seperti kanker ganas yang terlambat disadari.
Jika sebuah negara kehilangan kejujuran, lalu kehilangan rasa malu, kemudian kehilangan keadilan; maka keruntuhan tinggal menunggu waktu.
Bangsa yang besar jarang mati mendadak. Biasanya membusuk perlahan. Hukum berubah menjadi alat kekuasaan. Jabatan menjadi komoditas. Kekayaan negara dihamburkan seperti milik pribadi. Pajak meroket, tapi mutu layanan publik merosot. Rakyat diminta berkorban, sementara para penguasa hidup bergelimang kemewahan
Sarana publik rusak. Kepercayaan kepada pejabat lebih rusak. Fondasi rumah bangsa mulai bergeser.
Sebuah negara sesungguhnya tidak hanya berdiri di atas wilayah. Negara juga berdiri di atas keyakinan bahwa hukum berlaku sama bagi semua orang, bahwa jabatan adalah amanah–bukan kesempatan untuk memperkaya diri. Ketika keyakinan itu hilang, negara mungkin tampak utuh dari luar, tapi sesungguhnya telah keropos dari dalam.
Banyak negara kuat melemah oleh korupsi, perebutan kekuasaan, kemerosotan disiplin, dan rusaknya administrasi. Gejalanya selalu sama: hukum dipermainkan, lembaga dilemahkan, kritik dicurigai, dan kepentingan publik dikalahkan oleh kepentingan kelompok.
Keruntuhan semacam itu mulanya tidak terasa. Orang tetap bekerja, pusat-pusat perbelanjaan tetap ramai, pembangunan masih berlangsung, dan pidato-pidato optimistis terus berkobar. Namun, di balik semua itu, tumbuh keyakinan bahwa keadilan hanya milik mereka yang punya banyak uang, kuasa, atau hubungan.
Bila keyakinan semacam itu menguat, orang tidak lagi bertanya, “Apa yang benar?” Mereka bertanya, “Apa yang menguntungkan?” Dari situ korupsi menjadi kebiasaan, kebohongan menjadi strategi, dan pengkhianatan terhadap kepentingan umum dianggap kecerdikan.
Tidak ada bangunan yang bertahan lama jika fondasinya remuk. Senjata tidak mampu menggantikan integritas. Uang dan emas tidak dapat membeli kepercayaan.
Keruntuhan dari dalam dimulai oleh hal-hal yang tampak kecil: satu kebohongan yang dibiarkan, satu korupsi yang dimaklumi, satu ketidakadilan yang dianggap biasa. Tapi ketika semuanya terjadi berulang kali, bangsa itu perlahan kehilangan kemampuan membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar menguntungkan.
Ancaman terbesar bagi sebuah negara tidak selalu datang dari luar perbatasan. Ancaman terbesar sudah berada di dalam ketika mereka yang diberi amanah untuk menjaga rumah bersama justru mulai merobohkan tiang-tiangnya.
(SS)
(Lukisan karya Damian Didenko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *