Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Dua gamelan pusaka Keraton Yogyakarta kembali keluar dari Bangsal Pancaniti, Rabu (19/8) malam. Diiringi prajurit Keraton dan disaksikan masyarakat, Kanjeng Kiai Guntur Madu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga diusung menuju Pagongan Masjid Gedhe, menandai dimulainya rangkaian Hajad Dalem Sekaten Be 1960/2026.
Prosesi Miyos Gangsa berlangsung sekitar pukul 20.30 WIB. Sebelum gamelan pusaka diberangkatkan, GKR Mangkubumi memimpin penyebaran udhik-udhik di Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti dan Kamandungan Lor. Ia didampingi GKR Condrokirono, GKR Maduretno, GKR Hayu, GKR Bendara, KPH Purbodiningrat, dan RAj Artie Ayya Fatimasari.
Udhik-udhik berupa beras, uang logam, biji-bijian, dan bunga disebarkan sebagai bentuk sedekah. Tradisi tersebut menjadi simbol permohonan keberkahan dan kemakmuran, sekaligus bagian dari bekal bagi para wiyaga atau penabuh gamelan yang akan bertugas selama rangkaian Sekaten.
Kesempatan masyarakat menyaksikan langsung prosesi Miyos Gangsa dari Kagungan Dalem Pagelaran menjadi salah satu hal istimewa dalam pelaksanaan Sekaten tahun ini. Warga dapat menyaksikan lebih dekat keluarnya dua gamelan pusaka Keraton sebelum keduanya diusung menuju Pagongan Masjid Gedhe.
Setelah prosesi udhik-udhik, kedua gamelan pusaka yang sebelumnya ditempatkan di Bangsal Pancaniti mulai diusung keluar. Iring-iringan bergerak melewati Kagungan Dalem Pagelaran menuju kompleks Masjid Gedhe.
Miyos Gangsa berarti keluarnya gamelan dan menjadi penanda dimulainya rangkaian Hajad Dalem Sekaten Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tradisi tahunan ini digelar setiap bulan Mulud dalam penanggalan Jawa untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dan telah diwariskan sejak masa Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Iring-iringan dua gamelan pusaka tersebut mendapat pengawalan empat bregada prajurit Keraton Yogyakarta, yakni Prajurit Langenkusuma, Suranata, Prawiratama, dan Jagakarya.
Carik Kawedanan Kaprajuritan Keraton Yogyakarta, MJ Yuda Kawindra, mengatakan keterlibatan empat bregada tersebut menjadi bagian dari tata prosesi Miyos Gangsa Be 1960. “Dalam prosesi Miyos Gangsa, mereka bertugas mengawal keberangkatan Gamelan Sekati yang dibawa menuju ke Masjid Gedhe,” tuturnya.
Kagungan Dalem Pagelaran dibuka untuk masyarakat mulai pukul 19.30 WIB. Warga yang hadir juga dibagikan lilin untuk dinyalakan tepat ketika Gamelan Sekati menuruni Siti Hinggil. “Masyarakat yang hadir di Pagelaran dibagikan lilin yang dinyalakan tepat ketika Gamelan Sekati menuruni Siti Hinggil,” kata Yuda.
Sesampainya di kompleks Masjid Gedhe, Kanjeng Kiai Guntur Madu ditempatkan di Pagongan Kidul, sedangkan Kanjeng Kiai Nagawilaga ditempatkan di Pagongan Lor. Kedua gamelan pusaka tersebut selanjutnya akan dibunyikan pada waktu-waktu tertentu selama rangkaian Sekaten.
Sekaten merupakan rangkaian tradisi Keraton Yogyakarta yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Mulud untuk menyambut dan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Rangkaian ini menjadi bagian dari Hajad Dalem Sekaten dan Garebeg Mulud Be 1960/2026. Setelah Miyos Gangsa, rangkaian Hajad Dalem berlanjut menuju Garebeg Mulud yang dijadwalkan pada Rabu (26/8).
Sesuai dhawuh Sri Sultan Hamengku Buwono X, pelaksanaan Garebeg Mulud tahun ini masih digelar secara sederhana dengan konsep pembagian ubarampe pareden. Meski demikian, sejumlah rangkaian Hajad Dalem Sekaten tetap dilaksanakan untuk menyambut bulan Mulud dan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Rangkaian Hajad Dalem Sekaten dan Garebeg Mulud Be 1960/2026 juga disiarkan melalui media sosial resmi Keraton Yogyakarta di Instagram dan TikTok. Sementara pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW akan ditayangkan melalui kanal YouTube Keraton Yogyakarta.
Dengan Miyos Gangsa, dua gamelan pusaka kini telah menempati Pagongan Masjid Gedhe dan dibunyikan pada waktu-waktu tertentu hingga rangkaian Garebeg Mulud pada 26 Agustus mendatang.
Humas Pemda DIY




