MANTRIJERON,REDAKSI17.COM – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengajak seluruh kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan SMK/SMF Farmasi di Indonesia untuk bersama-sama melahirkan generasi muda yang berkualitas, kompeten, dan memiliki keahlian profesional sebagai bagian dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045.
Ajakan tersebut disampaikan Hasto saat menjadi keynote speaker dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pendidikan Menengah Farmasi Indonesia (APMFI) di KJ Hotel Yogyakarta, Selasa (22/9). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Strategi Pengembangan Pendidikan Kesehatan Vokasi untuk Mendukung Indonesia Emas 2045.”
Hasto menilai pendidikan vokasi memiliki posisi penting dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu menjawab kebutuhan dunia kerja, khususnya di bidang pelayanan kesehatan.

Kegiatan ini diikuti kurang lebih 120 peserta se Indonesia.

Ia juga mengingatkan tantangan demografi yang dihadapi Indonesia, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang telah memasuki fase masyarakat menua. Hasto menyebut proporsi penduduk lanjut usia di DIY saat ini telah mencapai sekitar 17,8 persen.
“Kondisi tersebut, perlu menjadi perhatian karena Indonesia berisiko mengalami kondisi growing old before growing rich, yakni masyarakat yang menua sebelum mencapai tingkat kesejahteraan ekonomi yang tinggi,” ungkapnya.
Tambahnya, situasi tersebut juga berkaitan dengan meningkatnya beban yang harus ditanggung generasi produktif. Hasto mencontohkan fenomena sandwich generation, yakni generasi yang pada saat bersamaan harus menopang kebutuhan anak sekaligus orang tua yang telah lanjut usia.
“Makanya sekolah farmasi, sekolah yang membuat keterampilan, keahlian, dan pengetahuan itu sebetulnya penting sekali,” ujarnya.
Pihaknya juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara hard skill dan soft skill. Keterampilan teknis harus dikuasai, tetapi kemampuan berkomunikasi, membangun relasi, bekerja sama, dan memberikan pelayanan yang baik juga diperlukan ketika lulusan memasuki dunia kerja.
“Yang kita berikan itu 90 persen hard skill, tetapi soft skill kita kadang tidak sempat memberikan. Padahal sukses di lapangan membutuhkan keduanya,” jelas Hasto.

Hasto Wardoyo saat bersama perwakilan para pendidik Farmasi Indonesia.

Tak hanya itu, Hasto juga mendorong para pendidik untuk tidak berhenti pada inovasi yang bersifat administratif, tetapi berani melakukan perubahan yang lebih mendasar melalui rekonstruksi sosial dan perubahan pola pikir.
Menurutnya, perubahan menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan SDM yang mampu beradaptasi, bekerja, produktif, serta memiliki karakter dan keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat APMFI, Dr. apt. Leonov Rianto, mengatakan, Rakernas menjadi momentum bagi pengelola pendidikan menengah farmasi untuk bertukar gagasan dan merumuskan langkah bersama menghadapi berbagai tantangan pendidikan vokasi di Indonesia.
Leonov Rianto menyebut, kegiatan tersebut diikuti perwakilan dari 67 SMK yang hadir dalam agenda Rakernas. “Insyaallah tahun ini kita akan meluluskan kurang lebih hampir 4.000 lulusan SMK Farmasi se-Indonesia. Dimas saat ini terdapat sekitar 973 SMK Farmasi di Indonesia. ” jelasnya.
Ia mengatakan, APMFI terus mendorong sekolah untuk mengikuti berbagai program pemerintah serta memperluas kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk mitra dari luar negeri. “Mari kita bersama-sama memastikan agar jenjang lanjutan pendidikan, bisa berjalan dan selaras,” ujarnya.